Pada H+1 lebaran ayah anak-anak harus kembali ke rumah karena masa cutinya sudah habis. Mulai dari malam sebelumnya Cia dan Bee berebutan minta gendong ayahnya. Cia hanya mau makan kalau disuapi ayahnya. Dan mandi pun hanya mau dibantu ayahnya.
Pada saat mengantar keberangkatan ayahnya ke terminal bus Bee meraih-raih ingin ikut. Cia sedikit denial bahwa ayahnya sudah mau berangkat. Saya kira ini perpisahan biasa. Pulang dari mengantarkan ayahnya Cia bermain seperti biasa. Kebetulan ada keponakan datang jadi suasana ramai. Tapi ternyata ini luar biasa.
Esok paginya kami ada acara reuni keluarga di Jombang. Cia sudah diberi tahu semalam sebelumnya. Dini hari sebelum subuh Cia dan Bee sudah saya bangunkan untuk diajak berangkat. Perjalanan berjalan lancar hingga sampai tempat tujuan pertama kami, rumah nenek saya. Tetapi sampai di rumah nenek saya Cia mulai merasa asing. Jarang bertemu kerabat yang sedang berkumpul dan disambut dengan terlalu antusias membuat Cia merasa tidak aman. Cia mulai merengek dan menolak bersalaman. Menolak mandi dan makan. Setelah di bujuk barulah Cia mau mandi dan sarapan.
Setelah rapi kedua bocil mulailah berbagai obrolan santai. Dari banyaknya kerabat dan pertanyaan, satu pertanyaan yang selalu berulang, yaitu dimana ayah anak-anak? Saya menjawab berulang dan Cia mendengar. Rupanya dia memerhatikan walaupun tampaknya dia sedang bermain.
Rupanya fakta ayahnya telah kembali ke rumah kami menimbulkan gejolak dalam batinnya hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya. Ditambah guyonan ayahnya sebelum berangkat adalah Cia diajak ikut buat beberes dan masak untuk ayahnya rupanya meningkatkan ketidaknyamanannya.
Cia mulai rewel dan meminta untuk segera pulang padahal kami belum ke tempat acara dan masih banyak saudara yang harus dikunjungi.
Sementara Cia bisa diajak kompromi, yang membuat level emosi saya menanjak selevel lebih tinggi.
Semakin siang semakin susah untuk mengajaknya kompromi. Membuat level emosi saya semakin naik. Perjalanan kami panjang dan melelahkan tetapi kami bersyukur bisa berjumpa dengan kerabat.
Kami mandi dan menyegarkan diri di rumah salah satu kerabat. Cia menemukan seorang teman main, jadi Cia sangat kooperatif. Tetapi dalam perjalanan pulang kami mampir rumah makan dan Cia mulai rewel lagi. Menolak makan dan harus dipaksa untuk makan.
Sampai di rumah Cia malah menangis. Dia mulai meminta pulang ke rumah kami dan menanyakan ayahnya. Dengan berbagai bujukan Cia setuju untuk tidur. Walaupun susah untuk memulai akhirnya Cia bisa tidur juga.
Berakhir juga satu hari yang melelahkan.
No comments:
Post a Comment