Pagi-pagi Cia meminta kepada saya permen loli. Saya menjanjikan membelikannya di mini market baru dekat rumah. Namun karena beberapa hal kami belum jadi berangkat. Mulailah si kakak merajuk.
"Aku sama adik udah mandi, Bunda. Ayo berangkat."
"Lha, Bunda yang belum mandi, Kak. Lagipula udah panas, nih kalau jalan kaki. Emangnya nanti Kakak nggak haus? Kan, lagi puasa."
"Nggak papa, Bun. Aku nggak haus, kok."
Ternyata setelah saya mandi kebetulan ART minta ijin keluar, dan si adik masih tertidur. Maka kami menunda kembali rencana kami.
"Ayo, Bun. Berangkat."
"Lho, mama sama mbak lagi tidur, bibi juga masih keluar nanti nggak ada yang jagain rumahnya."
"Ya, dikunci, dong."
"Trus kuncinya yang bawa siapa? Kalau kita bawa bibi mau masuk nggak bisa, mama atau mbak juga nggak bisa keluar nanti."
"Lha, mama emang mau ke mana?"
"Ya, kan kali mau ke depan ke rumah budhe atau apa."
Mulailah balada Cia memaksakan keinginannya.
"Nggak usah dikunci aja kalau gitu."
"Lho, nggak bisa. Kalau ada orang jahat masuk gimana?"
"Emang orang jahat masuk mau apa?"
"Ya, ada pencuri atau gimana kan kita mesti hati-hati."
"Pencuri itu apa, Bun?"
"Pencuri itu kalau ada orang ambil barang orang lain tanpa ijin yang punya."
"Gitu itu dosa, Bun?"
"Ya, dosa. Sama malaikat besok di akhirat tangannya dipotong."
"Kenapa dipotong, Bun? Biar nggak mencuri lagi?"
"Iya, betul."
Sampai di sini diskusi berhenti. Tapi masih ngeyel mau berangkat. Akhirnya emak kehabisan akal dan membolehkan dia pinjam ponsel emak sambil menunggu situasi memungkinkan.
Menepati Janji adalah salah satu jalan mendapatkan kepercayaan anak. Jika belum mampu katakan alasannya dan beri tahukan waktu kita mampu menepatinya. Ini dapat meningatkan harga diri kita dan anak serta mengajarkan kejujuran dan kedisiplinan kepada anak.
No comments:
Post a Comment