Pages

Thursday, 29 June 2017

Pelipur Lara untuk Cia

Hari ini Cia masih belum bisa move on dengan kembalinya Ayah beraktivitas. Cia merengek dan masih ingin bersama ayahnya.

Untuk mengalihkan perhatiannya saya mengajaknya berenang bersama adik dan sepupu saya. Awalnya Cia menolak berangkat, setelah melalui diskusi panjang akhirnya Cia mau berangkat juga.

Sampai di kolam renang Cia tampak ceria berlarian dan mengoceh banyak hal sambil menunggu loket dibuka (kami datang kepagian) hehehe. Bee pun mencoba berenang untuk pertama kalinya. Cia tampak senang berteriak, tertawa sambil berenang.



Dinginnya air tak menghalanginya terus berenang. Bermain perosotan dan menjelajahi kolam renang dengan memakai pelampung dan mencoba setiap kolam balon yang tersedia.
Karena air kolam dan udara yang dingin, satu jam berlalu Bee kedinginan sehingga segera saya ajak untuk membersihkan diri. Setelah mandi Bee tertidur, jadi saya ajak Cia yang juga sudah kedinginan untuk mandi sambil saya pesankan makanan untuk menghangatkan badan.

Setelah mandi sambil menunggu makanan datang Cia makan cemilan bersama kami. Rengekan mulai muncul setelah makan selesai. Cia mulai menginginkan pulang ke rumah mertua. Saya tidak mengijinkan karena mertua yang sedang sakit membutuhkan banyak istirahat, saya khawatirkan Cia merengek dan mengganggu istirahat beliau.
Penolakan ini memicu tangisannya. Tangisnya tidak berhenti sampai kami tiba di rumah dan sejam kemudian.

"Aku sedih ditinggal Ayah, Bun. Mau ke Kakung Maryo."

"Di kakung Maryo Ayah juga nggak ada."

Berbagai alasan saya berikan mengapa saya tidak bisa mengabulkan permintaannya. Mulai dari alasan ayahnya kembali dan bahwa dia tidak ditinggalkan, bahwa kakungnya butuh istirahat, sampai bahwa dia memiliki lebih banyak teman main jika di rumah Kakung Hudi. Tapi tidak memberi efek yang berarti. Dia mulai memukul, menendang, mencubit dan melempar sendal. Dibantu sepupu saya untuk menenangkannya, akhirnya dia berhenti tantrum meski masih menangis.

Sampai di rumah tangisnya belum juga mereda. Saya berusaha mengabaikan dan membiarkan dia melepaskan emosinya, namun Cia malah terus menempel saya. Sampai akhirnya saya berikan ultimatum terakhir.

"Belum capek nangisnya? Cia masih mau dibilangi Bunda? Kalau mau, Cia harus nurut dikasih tahu Bunda. Bunda diam dari tadi dibiarin nangis nggak berhenti juga. Dibilangi pelan-pelan nggak bisa. Kalau gitu Bunda bisa marah."

"Nggak, Bunda. Cia mau dibilangin. Minta maaf, Bunda."

Walaupun masih tersedu, akhirnya Cia berhenti menangis. Setelah benar-benar berhenti barulah dia bisa diberi berbagai penjelasan. Bahkan dia bisa mengulangi setiap alasan yang saya berikan.

Saya keluarkan album foto pernikahan saya dan ayahnya dan Cia mulai membuka-bukanya. Album foto ini menjadi pelipur laranya mengobati kerinduannya pada ayahnya. Meski album tersebut tidaklah ringan Cia membawanya kemana-mana.

Cia mau bermain kembali di belakang rumah, bermain bersama sepupu yang tinggal di belakang. Bermain dan berlarian bersama Bee dan mulai kooeratif. Meski kadang masih teringat ayahnya namun Cia masih bisa diaja berdiskusi. Apalagi keponakan datang ke rumah untuk bermain, membuat Cia lebih ceria.

Fingers cross she'll be fine today.

Cia Patah Hati

Bangun tidur Cia menanyakan kembali perihal ayahnya. Tetapi Cia masih bermain seperti biasa. Kami berencana menginap di rumah mertua maka saya beberes cucian. Sebelum berangkat kami menemui beberapa kerabat yang berkunjunh dan beberapa tamu. Rupanya Cia sudah tidak sabar menunggu dan mulai rewel sampai menangis.

Ketika ditanya kenapa dia hanya bilang mau pulang ke rumah, mau sama ayah sekarang. Masih menangis tersedu-sedu, malah Bee berusaha menenangkan kakaknya dengan menepuk-nepuk kepala dan menciuminya lalu tertawa.
Cia masih belum bisa berhenti menangis. Baru berhenti ketika kami sudah mau berangkat. Tetapi begitu sampai di rumah mertua dan mengetahui rumah sudah sepi tinggal kakung dan utinya dia kembali menangis tersedu-sedu. Ketika saya konfirmasi apakah dia menangis karena sedih karena ditinggal ayahnya tangisnya semakin kencang sambil mengangguk.

"Kasihan Ayah, Bun sendirian. Nanti makannya gimana?" katanya sambil menangis.

"Ayah sudah besar, ayah bisa beli sendiri naik motor. Dan ayah kan pulang ke rumah tinggal tidur. Kalau di kantor, ya, banyak temannya."

Alasan tersebut tidak mampu menangkannya. Dia masih mengulangi pernyataan yang sama.

"Aku ikut ayah aja. Nanti makannya Ayah aku yang belikan ke depan naik sepeda."

"Lha, kalau Ayah kerja Cia sama siapa? Anak kecil itu nggak boleh di rumah sendirian."

"Kenapa? Takut ada pencuri?"

"Iya. Sama kalau ada orang jahat masuk gimana?"

"Kan, pintunya dikunci Ayah."

"Ya, kalau orang jahat masih bisa maksa masuk, Kak."

Berbagai alasan belum mampu menenangkannya. Sampai kakungnya tidak bisa istirahat. Akhirnya dengan terpaksa saya menegaskan bahwa dia harus segera menghentikan tangisnya kalau masih mau di sini supaya tidak mengganggu istirahat kakungnya.

Setelah adiknya tidur, Cia mau tidur juga akhirnya. Tetapi setelah satu jam dia terbangun sambil menangis. Masih karena alasan yang sama. Sampai Bee ikut terbangun dan ikut rewel.

Kakungnya kembali terganggu istirahatnya. Setelah sedikit tenang saya ajak sholat ke mushola. Kebetulan di mushola tergantung foto muda ayahnya. Hal ini memancing kembali emosinya dan meledakkan kembali tangisnya dan meminta dipeluk.

"Aku sedih ditinggal Ayah, Bun. Ayah kasihan sendirian. Aku mau pulang."

"Nggak papa, Kak. Ayah sudah besar jadi sudah bisa menjaga diri. Nanti kalau liburan sudah habis kita, kan, pulang juga."

"Tapi lama."

"Kalau Kakak kangen Ayah, didoain, Kak. Minta sama Alloh biar Ayah sehat, kerjanya lancar."

Belum mampu ditenangkan, saya mulai terpancing. Saya ingatkan lagi bahwa kakungnya perlu istirahat. Perlu sekitar setengah jam untuk menenangkannya. Berhenti menangis tidak membuatnya lupa tentang masalahnya. Beberapa kali Cia menengok ke dalam mushola untuk melihat foto ayahnya.

Cia sedikit lebih tenang ketika menemukan kertas dan bulpen. Dia lalu menggambar beberapa orang.





"Ini aku, adik, Bunda, Ayah. Coba lihat, Bun."

"Wah, bagus. Ini ditulisin, Kak. Ayah, Kakak, Adik, Bunda."

"Oh, iya."

Menggambar dan menulis mampu mengalihkan perhatiannya sejenak. Selama sekitar satu jam Cia sibuk menggambar dan minta diajari menulis. Habis tiga lembar kertas, Cia mulai menangis lagi sampai selesai mandi.

"Gambarnya ini nanti dibawa pulang, ya, Bun."

"Oke. Nanti Bunda foto buat dikirim ke Ayah, ya."

Cia masih tampak ingin menangis kalau ingat ayahnya. Sampai ia tertidur sendiri.

Wednesday, 28 June 2017

See You Latter, Ayah

Pada H+1 lebaran ayah anak-anak harus kembali ke rumah karena masa cutinya sudah habis. Mulai dari malam sebelumnya Cia dan Bee berebutan minta gendong ayahnya. Cia hanya mau makan kalau disuapi ayahnya. Dan mandi pun hanya mau dibantu ayahnya.

Pada saat mengantar keberangkatan ayahnya ke terminal bus Bee meraih-raih ingin ikut. Cia sedikit denial bahwa ayahnya sudah mau berangkat. Saya kira ini perpisahan biasa. Pulang dari mengantarkan ayahnya Cia bermain seperti biasa. Kebetulan ada keponakan datang jadi suasana ramai. Tapi ternyata ini luar biasa.

Esok paginya kami ada acara reuni keluarga di Jombang. Cia sudah diberi tahu semalam sebelumnya. Dini hari sebelum subuh Cia dan Bee sudah saya bangunkan untuk diajak berangkat. Perjalanan berjalan lancar hingga sampai tempat tujuan pertama kami, rumah nenek saya. Tetapi sampai di rumah nenek saya Cia mulai merasa asing. Jarang bertemu kerabat yang sedang berkumpul dan disambut dengan terlalu antusias membuat Cia merasa tidak aman. Cia mulai merengek dan menolak bersalaman. Menolak mandi dan makan. Setelah di bujuk barulah Cia mau mandi dan sarapan.

Setelah rapi kedua bocil mulailah berbagai obrolan santai. Dari banyaknya kerabat dan pertanyaan, satu pertanyaan yang selalu berulang, yaitu dimana ayah anak-anak? Saya menjawab berulang dan Cia mendengar. Rupanya dia memerhatikan walaupun tampaknya dia sedang bermain.

Rupanya fakta ayahnya telah kembali ke rumah kami menimbulkan gejolak dalam batinnya hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya. Ditambah guyonan ayahnya sebelum berangkat adalah Cia diajak ikut buat beberes dan masak untuk ayahnya rupanya meningkatkan ketidaknyamanannya.
Cia mulai rewel dan meminta untuk segera pulang padahal kami belum ke tempat acara dan masih banyak saudara yang harus dikunjungi.

Sementara Cia bisa diajak kompromi, yang membuat level emosi saya menanjak selevel lebih tinggi.
Semakin siang semakin susah untuk mengajaknya kompromi. Membuat level emosi saya semakin naik. Perjalanan kami panjang dan melelahkan tetapi kami bersyukur bisa berjumpa dengan kerabat.

Kami mandi dan menyegarkan diri di rumah salah satu kerabat. Cia menemukan seorang teman main, jadi Cia sangat kooperatif. Tetapi dalam perjalanan pulang kami mampir rumah makan dan Cia mulai rewel lagi. Menolak makan dan harus dipaksa untuk makan.

Sampai di rumah Cia malah menangis. Dia mulai meminta pulang ke rumah kami dan menanyakan ayahnya. Dengan berbagai bujukan Cia setuju untuk tidur. Walaupun susah untuk memulai akhirnya Cia bisa tidur juga.

Berakhir juga satu hari yang melelahkan.

Monday, 26 June 2017

Mengenal Silsilah Keluarga

Sebelum hari raya kemarin kami mengunjungi makam ibu suami dan mama saya. Berziarah ke makam keluarga rupanya membawa kesan yang mendalam pada Cia. Setelah diberitahukan tentang "rumah" uti, Cia mulai bertanya2.

"Bun, yang di makam itu siapa?"

"Yang di makam itu Uti. Bundanya ayah dan bundanya bunda."

"Kok, bundanya ayah dan bundanya bunda panggilnya Uti. Trus uti yang di sekarang juga uti?"

"Iya, utinya kakak ada banyak. Uti yang di makam itu bundanya ayah, bundanya bunda; yang melahirkan ayah bunda. Uti yang sekarang itu istrinya kakung."

"Kenapa kok rumahnya di makam?"

"Karena sudah meninggal."

"Kenapa meninggal? Emang sakit?"

"Bundanya ayah sakit. Kalau bundanya bunda ketabrak mobil."

"Kenapa kok meninggal. Kan nggak sakit?"

"Ya kalau ketabrak mobil itu sakit, kak. Kebentur lehernya bagian belakang. Kena pusat nafasnya jadi berhenti nafasnya."

"Aku jatuh nggak papa. Masih bisa bernafas."

"Ya kakak jatuh yang kena lututnya. Makanya jalannya hati-hati, jangan lari biar nggak jatuh. Uti jatuh kena lehernya yang ada pusat nafasnya makanya meninggal."

"Kalau nggak ketabrak berarti nggak meninggal?"

"Iya."

"Kenapa mobilnya nabrak? Emangnya nggak liat?"

"Ya karena mobilnya ngebut jadi oleng dan nggak liat akung sama uti yang udah berhenti. Trus nabrak motor yang dinaiki akung ma uti."

"Mobil apa yang nabrak?"

"Mobil pick up."

"Trus bunda yang nolongin?"

"Bukan. Yang nolong pak polisi."

"Ooo pak polisi, trus dibawa ke rumah sakit sama pak polisi?"

Sampai di sini saya tertegun. Betapa Cia mampu menghubungkan runutan kejadian berdasarkan cerita yang didengarnya.

Dia meminta saya mengulang-ulang cerita ini bagai dongeng. Berkali-kali dia menanyakan kejadian 12 tahun lalu. Seakan ingin mengetahui setiap detail tentang leluhurnya.

Ziarah semacam ini bermanfaat untuk mengenalkan anak-anak tentang leluhurnya. Mengajak anak untuk mulai mengenali pohon keluarganya.
Ketika ditunjukkan foto mama saya, Cia seperti tertegun. Mengamati setiap foto yang ditunjukkan kepadanya sambil beberapa kali mengulang-ulang pertanyaannya.

Saya mencoba menanyakan kembali jika pertanyaan yang sama sering diulangnya. Dan Cia mengulangi cerita saya dengan tepat.

Mungkin tahun depan saatnya malaksanakan proyek membuat pohon keluarga.

Saturday, 24 June 2017

Goodbye Ramadhan Welcome Syawal

Suasana penyambutan hari raya di kampung memang sangat terasa berbeda. Anak-anak sangat berbahagia dan antusias menyambut Idul Fitri. Cia yang berlibur pun terbawa suasana penyambutan hari raya kali ini.

Semenjak lepas maghrib Cia sudah stand by di depan masjid bersama anak-anak lainnya menunggu waktu takbir keliling.






Cia langsung mengambil posisi terdepan dalam barisan takbir keliling. Selama perjalanan yang ditemani ayahnya, Cia tetap bersemangat mengumandangkan takbir bersama teman-temannya.

Bahkan ketika sudah sampai kembali ke masjid ayahnya sampai kelelahan mengikutinya berlarian bersama teman-temannya. Akhirnya ayah menyerah dan menunggu di rumah.

Anak-anak memenuhi masjid sambil bertakbir, memukul bedug dan berlarian membawa suasana syahdu menyambut datangnya hari suci sekaligus kesesakan di dada harus meninggalkan ramadhan yang mulia.

Mengajak anak-anak mencintai masjid di mulai dengan sesuatu yang menyenangkan. Semoga saat mereka dewasa menjadi orang-orang yang memakmurkan masjid.

Semoga masih bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan sehingga mampu bertakbir menyambut Idul Fitri kembali.

Selamat menyambut Idul Fitri 1438H semoga amal ibadah kita selama Ramdhan tahun ini mendapat ridho Alloh SWT. Cia sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin.

Thursday, 15 June 2017

Balada Permen Loli

Pagi-pagi Cia meminta kepada saya permen loli. Saya menjanjikan membelikannya di mini market baru dekat rumah. Namun karena beberapa hal kami belum jadi berangkat. Mulailah si kakak merajuk.

"Aku sama adik udah mandi, Bunda. Ayo berangkat."

"Lha, Bunda yang belum mandi, Kak. Lagipula udah panas, nih kalau jalan kaki. Emangnya nanti Kakak nggak haus? Kan, lagi puasa."

"Nggak papa, Bun. Aku nggak haus, kok."

Ternyata setelah saya mandi kebetulan ART minta ijin keluar, dan si adik masih tertidur. Maka kami menunda kembali rencana kami.

"Ayo, Bun. Berangkat."

"Lho, mama sama mbak lagi tidur, bibi juga masih keluar nanti nggak ada yang jagain rumahnya."

"Ya, dikunci, dong."

"Trus kuncinya yang bawa siapa? Kalau kita bawa bibi mau masuk nggak bisa, mama atau mbak juga nggak bisa keluar nanti."

"Lha, mama emang mau ke mana?"

"Ya, kan kali mau ke depan ke rumah budhe atau apa."

Mulailah balada Cia memaksakan keinginannya.

"Nggak usah dikunci aja kalau gitu."

"Lho, nggak bisa. Kalau ada orang jahat masuk gimana?"

"Emang orang jahat masuk mau apa?"

"Ya, ada pencuri atau gimana kan kita mesti hati-hati."

"Pencuri itu apa, Bun?"

"Pencuri itu kalau ada orang ambil barang orang lain tanpa ijin yang punya."

"Gitu itu dosa, Bun?"

"Ya, dosa. Sama malaikat besok di akhirat tangannya dipotong."

"Kenapa dipotong, Bun? Biar nggak mencuri lagi?"

"Iya, betul."

Sampai di sini diskusi berhenti. Tapi masih ngeyel mau berangkat. Akhirnya emak kehabisan akal dan membolehkan dia pinjam ponsel emak sambil menunggu situasi memungkinkan.

Menepati Janji adalah salah satu jalan mendapatkan kepercayaan anak. Jika belum mampu katakan alasannya dan beri tahukan waktu kita mampu menepatinya. Ini dapat meningatkan harga diri kita dan anak serta mengajarkan kejujuran dan kedisiplinan kepada anak.

Friday, 9 June 2017

Cia, Ibadah Puasa, Mudik, dan Berdoa

Ketika iklan di tv latah dengan mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa dan mulai banyak yang membahas tentang mudik, Cia mulai menanyakan pengeritannya.

"Bun, ibadah puasa itu apa, sih?"
Pertanyaan ini sedikit mengejutkan karena sebenarnya dia sudah mulai latihan berpuasa walau masih sampai siang hari. Lalu saya jawab bahwa ibadah adalah sebuah perbuatan untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan, contohnya ibadah puasa.
"Oooo, ibadah itu puasa?"
"Hmmm...salah satunya puasa. Ibadah itu ada banyaaaak sekali."
"Oooo...jadi ibadah puasa itu biar disayang sama Alloh, ya, Bunda."

Sampai di sini dia melanjutkan aktivitasnya. Mulailah lagi suara monolog, nyanyian, dan diselingi teriakan terdengar. Kemudian muncul iklan lain yang menarik perhatiannya.

"Bunda, mudik itu apa, sih?"
"Mudik itu, adalah ketika kita pulang ke kampung halaman, kak."
"Kenapa?"

Nah, jika sudah mulai memasuki pertanyaan "kenapa", emak harus berpikir serius ini.

"Ya untuk bertemu saudara yang sudah lama kita nggak ketemu. Kaya kakung, uti, om, dan lain-lain."
"Oooo....Lama kita ke sana, nginep nggak?"
"Ya, nginep, Kak. Kita nginepnya lama karena kampung kan jauh."
"Oooo....Oke, Bunda."

Sore hari menjelang maghrib, Cia berada di mushola. Ketika di tanya apa yang dilakukannya, dia sedang berdoa πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

"Berdoa apa, kak?"
"Yaaa, berdoa macem-macem, Bun. Doa sebelum makan, sebelum tidur, doa berbuka puasa."πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†
"Maksud Bunda, Kakak itu berdoa minta apa ke Alloh?"
"Cia minta supaya disayang Alloh, Bunda."

Subhanalloh....anak sholihah. Amiiiin...
Kepolosan anak kadang membuat saya emaknya tak bisa berkata-kata. Keinginan yang tampaknya sederhana, namun jika kita mau melihat lebih jauh memiliki makna yang sangat dalam. Sesungguhnya anak-anak adalah guru saya dalam kejujuran, kesucian, dan ketulusan.
Love love love Kakak.

Saturday, 3 June 2017

Hampir Terlupa di Hari Ketiga

Hari ini memasuki hari ketiga tantangan komunikasi produktif. Pagi-pagi setelah sahur kakak tidak mau diam. Bermain segala sesuatu di dalam kamar. Sampai deodoran saya pun dimainkan. Alhasil kamar berserakan termasuk atas kasur. Ditambah baby yang terbangun menambah semarak kamar kami. Saya ingatkan kakak untuk mengembalikan deodoran saya di atas meja karena kemasannya yang terbuat dari kaca. Tetapi diacuhkannya dan saya lupa untuk mengembalikanny sendiri.

Setelah beberapa saat bermain, saya putuskan saatnya mandi. Si kakak masih belum mau mandi dan sibuk bermain ini itu. Jadilah baby mandi lebih dulu. Nah, kejadiannya ketika merawat baby sehabis mandi. Baby memainkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Ketika dia bosan dilemparkan apapun yang dipegang ke lantai. Termsuk deodoran saya. hiks.

Daaan, pecahlah kemasan kacanya. Untung tidak sampai bercecer kaca maupun isinya yang membahayakan anak-anak. Jatuhnya ďeodoran ini serta merta membangitkan emosi saya. Reflek yang saya ucapkan adalah "Nah, kan. Kakak tadi suruh balikan sama Bunda, kan." Kenapa kakak yang salah padahal yang menjatuhkan adik? Untung saya langsung menyadari dan mengoreksi ucapan saya. "Dah, Kak. Ambil dan taruh meja biar nggak diambil adik." Kakak langsung menurut.



Saya sangat menyesal kelepasan lagi emosi saya. Sejenak tadi terlintas ekspresi bersalah dan ketakutan di wajah kakak. huhu. Maaf, ya, kak.

Mengetahui saya hanya menegur dan tidak marah dan mendapat terima kasih karena telah membereskan kekacauan ekspresinya kembali ceria.

Leganyaaaa.... Saatnya belajar lagi menata hati lebih keras lagi.

Friday, 2 June 2017

Membantu Bunda

Hari rabu yang lalu tiba-tiba Cia sibuk di dapur. Ketika ditanya apa yang dilakukannya dia menjawab sedang membantu mencuci piring kotor. Dia mengerjakan yang berbahan plastik dan bukan pecah belah. Wah, tentunya inisiatif ini perlu dipresiasi. Saya berterima kasih atas bantuannya, dan ini membuat matanya berbinar-binar. Saya kagum dengan hasilnya yang sudah lumayan bersih sehingga saya tidak perlu mengulang semua langkahnya.

Mendapat pujian membangkitkan semangatnya membantu pekerjaan rumah. Dia mengambil sapu dan langsung menyapu dapur. Kegiatan ini masih perlu latihan tambahan.hehe. Namun lagi-lagi inisiatifnya sangat luar biasa. Paling tidak dapur bersih dari rontokan kelupasn cat dinding yang berserakan.

Selesai mengerjakan ini itu, dia lalu berkata, "Bun, aku mau nabung buat beli mainan. Aku boleh minta uang, ya."

Hihi sudah pandai rupanya. Kesepakatan kami, jika dia mau beli mainan dia harus menabung. Uangnya didapat ketika membantu bunda atau ayah. Atau ketika dia melelang karyanya. Walau kesepakatan ini belum berjalan 100%, kami senantiasa belajar berkomitmen menjalankannya.

Bravo, Kak Cia.