Hari ini Cia masih belum bisa move on dengan kembalinya Ayah beraktivitas. Cia merengek dan masih ingin bersama ayahnya.
Untuk mengalihkan perhatiannya saya mengajaknya berenang bersama adik dan sepupu saya. Awalnya Cia menolak berangkat, setelah melalui diskusi panjang akhirnya Cia mau berangkat juga.
Sampai di kolam renang Cia tampak ceria berlarian dan mengoceh banyak hal sambil menunggu loket dibuka (kami datang kepagian) hehehe. Bee pun mencoba berenang untuk pertama kalinya. Cia tampak senang berteriak, tertawa sambil berenang.
Dinginnya air tak menghalanginya terus berenang. Bermain perosotan dan menjelajahi kolam renang dengan memakai pelampung dan mencoba setiap kolam balon yang tersedia.
Karena air kolam dan udara yang dingin, satu jam berlalu Bee kedinginan sehingga segera saya ajak untuk membersihkan diri. Setelah mandi Bee tertidur, jadi saya ajak Cia yang juga sudah kedinginan untuk mandi sambil saya pesankan makanan untuk menghangatkan badan.
Setelah mandi sambil menunggu makanan datang Cia makan cemilan bersama kami. Rengekan mulai muncul setelah makan selesai. Cia mulai menginginkan pulang ke rumah mertua. Saya tidak mengijinkan karena mertua yang sedang sakit membutuhkan banyak istirahat, saya khawatirkan Cia merengek dan mengganggu istirahat beliau.
Penolakan ini memicu tangisannya. Tangisnya tidak berhenti sampai kami tiba di rumah dan sejam kemudian.
"Aku sedih ditinggal Ayah, Bun. Mau ke Kakung Maryo."
"Di kakung Maryo Ayah juga nggak ada."
Berbagai alasan saya berikan mengapa saya tidak bisa mengabulkan permintaannya. Mulai dari alasan ayahnya kembali dan bahwa dia tidak ditinggalkan, bahwa kakungnya butuh istirahat, sampai bahwa dia memiliki lebih banyak teman main jika di rumah Kakung Hudi. Tapi tidak memberi efek yang berarti. Dia mulai memukul, menendang, mencubit dan melempar sendal. Dibantu sepupu saya untuk menenangkannya, akhirnya dia berhenti tantrum meski masih menangis.
Sampai di rumah tangisnya belum juga mereda. Saya berusaha mengabaikan dan membiarkan dia melepaskan emosinya, namun Cia malah terus menempel saya. Sampai akhirnya saya berikan ultimatum terakhir.
"Belum capek nangisnya? Cia masih mau dibilangi Bunda? Kalau mau, Cia harus nurut dikasih tahu Bunda. Bunda diam dari tadi dibiarin nangis nggak berhenti juga. Dibilangi pelan-pelan nggak bisa. Kalau gitu Bunda bisa marah."
"Nggak, Bunda. Cia mau dibilangin. Minta maaf, Bunda."
Walaupun masih tersedu, akhirnya Cia berhenti menangis. Setelah benar-benar berhenti barulah dia bisa diberi berbagai penjelasan. Bahkan dia bisa mengulangi setiap alasan yang saya berikan.
Saya keluarkan album foto pernikahan saya dan ayahnya dan Cia mulai membuka-bukanya. Album foto ini menjadi pelipur laranya mengobati kerinduannya pada ayahnya. Meski album tersebut tidaklah ringan Cia membawanya kemana-mana.
Cia mau bermain kembali di belakang rumah, bermain bersama sepupu yang tinggal di belakang. Bermain dan berlarian bersama Bee dan mulai kooeratif. Meski kadang masih teringat ayahnya namun Cia masih bisa diaja berdiskusi. Apalagi keponakan datang ke rumah untuk bermain, membuat Cia lebih ceria.
Fingers cross she'll be fine today.


No comments:
Post a Comment