Pages

Monday, 27 January 2020

Belajar Belanja

Cia belum bisa menghitung perkalian. Emak masih mengenalkan konsep perkalian seperti apa, dan masih menggunakan penghitungan manual dalam menyelesaikannya.

Namun anehnya, Cia mampu menghitung kelipatan jika berhubungan dengan uang 😆. Contohnya kemarin, saat sedang bermain jual-jualan dengan Bee sempat Emak dengar percakapan tentang kelipatan uang dua ribu rupiah.

"Mau beli berapa?" tanya Cia sebagai penjual.

"Tiga. Berapaan?" Bee ganti bertanya.

"Dua ribuan. Jadi kalau beli tiga bayar enam ribu," jawab Cia.

"Kok, mahal, sih?" tawar Bee.

"Lho, ya benerlah. Satu, kan dua ribuan. Kalau beli dua, empat ribu. Kalau beli tiga, enam ribu," terang Cia.

Kenyataan ini menyalakan ide 💡 Emak, deh. Kayanya nanti kalau belajar perkalian pakai analogi uang aja 🤣🤣.

Sunday, 27 August 2017

Ini Slime Apa Oobleck?

Sudah sejak lama Cia meminta dibelikan slime. Saya masih menunda karena belum bisa menerima kenyataan pahitnya membersihkannya. 😬😬😬

Setelah meminta untuk kesekian kalinya akhirnya emak mengiyakan sambil menyiapkan mental untuk bebersih nantinya. 

Lha ndilalah, kok, ya udah nggak musim slime. Dati beberapa penjual mainan slime yang dijual sangat sedikit dan bentuknya sangat cair sehingga mudah berceceran. Dengan berbagai bujuk rayu akhirnya Cia bersedia tidak beli slime. Tetapi dia meminta untuk membuat slime sendiri. 

Ketika mendapatkan jadwal kegiatan harian, Cia bersemangat karena hari minggu adalah hari berkarya. Dia bisa membuat apapun. Langsung saja slime menjadi idenya. 

Saat hari minggu tiba, langsung saja Cia minagih jatahnya. Dia merengek untuk membeli bahan pembuat slime. Emak tak mampu mengelak meskipun sedang tidak enak badan. 

Dari berbagai resep pembuatan slime di internet, terdapat satu resep yang mudah bahan dan cara pembuatannya. Dengan modal tepung dan shampoo. Setelah dicoba ternyata hasilnya kurang memuaskan.

Akhirnya kami memodifikasi resepnya. Menambah tepung, air, garam, dan pewarna makanan. Entah berapa perbandingan pastinya, namun hasilnya malah mendekati oobleck. 😁😁. Meski begitu Cia senang sekali berbelepotan ria. Bee yang melihat keseruan itu tidak mau ketinggalan. Bee langsung ikut nimbrung bermain oobleck.

Oobleck memang unik. Dia akan menjadi padat jika ditekan-tekan. Namun akan menjadi cair ketika di tuang. Sudah lama emak penasaran dengan oobleck namun Cia masih belum mau diajak bereksperimen. Pada mulanya Cia kurang suka dengan ide oobleck namun ketika mengetahui keunikanya Cia langsung terlarut di dalamnya.


Saturday, 15 July 2017

Aku Menemukan Pewarna Hitam

Permainan sore hari ini sedikit luar biasa. Setelah berlarian dan bersepeda anak-anak berhamburan. Lalu salah seorang sepupu Cia mengambil kerikil dari batu bata dan mencoretkannya di paving, muncullah warna merah. Cia tampak mengamati saja.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba Cia nyeletuk dengan bangga, "Aku nemu pewarna hitam! Lihat!" Sambil mencoretkan sesuatu ke paving dan berwarna hitam. Ternyata Cia menemukan arang. Tak butuh waktu lama anak-anak lain langsung mengerumuni dan mencoba arang tersebut bergantian.

Lucunya ketika mereka mencoba menghapus coretannya, justru membuat tangan mereka hitam. Bukannya takut, mereka malah mencari arang yang lain untuk semakin menghitamkan tangan mereka. Mereka sibuk menggosok-gosokkan arang ke paving lalu mengusapkan bekas gosokan tersebut ke tangan mereka. Alhasil seluruh telapak tangan mereka hitam legam.



Tak berhenti sampai di situ, kreatifitas mereka menggelitik apa yang akan terjadi jika mereka mengusapkan tangan hitam tersebut ke wajah mereka. Dan oh no.... Jadilah wajah coreng moreng hitam arang.


Setelah puas bereksperimen maka mereka harus segera membersihkan diri. Cia langsung mencoba membersihkan diri sendiri namun gagal. Akhirnya harus dibantu untuk menghilangkan seluruh noda arangnya. Tapi bahagianya Cia "berhasil menemukan pewarna hitam". Hihi.

Liburan kali ini precious :)

Friday, 14 July 2017

Kuda Poni Bersemi Kembali

Entah apa yang mengembalikan pesona kuda poni menggantikan dino. Semenjak dua bulan lalu topik kuda poni menyeruak kembali ke permukaan. Segalanya serba karakter ini. Dino terlupakan, lagi.

Cia kembali menggandrungi kuda poni. Meminta ini itu serba kuda poni, padahal mainan kuda poni sudah memenuhi rumah.

Kali ini tas ransel dan kasur berkarkter ini yang menjadi topik hangat di setiap obrolan santai kami. Kasur masih bisa dinego dengan set seprei, yang ditagihnya terus-menerus.hihihi. Perlu keahlian khusus untuk menghentikan rengenkanya soal perkasuran ini.

Yang tidak kalah heboh adalah tas ransel berkarkter kuda warna-warni ini. Walaupun Cia sudah memiliki beberapa tas bergambar poni yang didapat dari kadonya masih saja dia menginginkan ransel.

"Kakak, kan udah punya dua."

"Tapi yang ransel belum punya, Bun. Buat sekolah."

"Yang punya kakak itu juga bisa dipakai, lho."

"Tapi bukan ransel."

"Ya, sama aja. Lagian katanya mau sekolah di rumah, kan nggak perlu bawa tas segala."

"Ga papa, Bun buat tempat buku."

Kalau sudah ada acara ngeyel begini solusi satu-satunya untuk mendiamkannya sementara adalah dengan memantrainya.

"Oke, nabung dulu, ya."

Sementara mantra ini yang bisa mengajanya berpikir logis sementara waktu.

Hari ini kebetulan adalah peringatan hari lahir adiknya. Beberapa kerabat menghadiahi kado Bee. Tapi justru Cia yang lebih antusias membuka setiap kadonya. Dan taraaaaa.... salah satu kado ternyata berisi tas ransel kuda poni. Langsung saja Cia berbinar-binar dan mengklaim bahwa ransel itu adalah miliknya dengan dalih ulang tahun bersama-sama, adik masih terlalu kecil sedangkan tasnya terlalu besar, dan adik tidak suka karakter itu.

Berbagai negosiasi tidak berhasil dilakukan maka jadilah klaimnya terhadap tas tersebut diakui. Dan klaim tersebut dibuktikan dengan penuhnya tas akan mainannya, digendongnya ransel tersebut kemana-mana, dan dikeloninya ransel poni itu saat tidur.

Kabar baiknya adalah adik boleh "meminjam" ransel poni itu.

Fuih...masih belum paham konsep ulang tahun, yang dipahaminya adalah pemberian hadiah kenang-kenangan. Fine, Bee masih dapat tiga boneka dan satu baju, Emak berencana meberi mainan karater kesukaan Bee jadi tak apalah berbagi hadiah.

Thursday, 29 June 2017

Pelipur Lara untuk Cia

Hari ini Cia masih belum bisa move on dengan kembalinya Ayah beraktivitas. Cia merengek dan masih ingin bersama ayahnya.

Untuk mengalihkan perhatiannya saya mengajaknya berenang bersama adik dan sepupu saya. Awalnya Cia menolak berangkat, setelah melalui diskusi panjang akhirnya Cia mau berangkat juga.

Sampai di kolam renang Cia tampak ceria berlarian dan mengoceh banyak hal sambil menunggu loket dibuka (kami datang kepagian) hehehe. Bee pun mencoba berenang untuk pertama kalinya. Cia tampak senang berteriak, tertawa sambil berenang.



Dinginnya air tak menghalanginya terus berenang. Bermain perosotan dan menjelajahi kolam renang dengan memakai pelampung dan mencoba setiap kolam balon yang tersedia.
Karena air kolam dan udara yang dingin, satu jam berlalu Bee kedinginan sehingga segera saya ajak untuk membersihkan diri. Setelah mandi Bee tertidur, jadi saya ajak Cia yang juga sudah kedinginan untuk mandi sambil saya pesankan makanan untuk menghangatkan badan.

Setelah mandi sambil menunggu makanan datang Cia makan cemilan bersama kami. Rengekan mulai muncul setelah makan selesai. Cia mulai menginginkan pulang ke rumah mertua. Saya tidak mengijinkan karena mertua yang sedang sakit membutuhkan banyak istirahat, saya khawatirkan Cia merengek dan mengganggu istirahat beliau.
Penolakan ini memicu tangisannya. Tangisnya tidak berhenti sampai kami tiba di rumah dan sejam kemudian.

"Aku sedih ditinggal Ayah, Bun. Mau ke Kakung Maryo."

"Di kakung Maryo Ayah juga nggak ada."

Berbagai alasan saya berikan mengapa saya tidak bisa mengabulkan permintaannya. Mulai dari alasan ayahnya kembali dan bahwa dia tidak ditinggalkan, bahwa kakungnya butuh istirahat, sampai bahwa dia memiliki lebih banyak teman main jika di rumah Kakung Hudi. Tapi tidak memberi efek yang berarti. Dia mulai memukul, menendang, mencubit dan melempar sendal. Dibantu sepupu saya untuk menenangkannya, akhirnya dia berhenti tantrum meski masih menangis.

Sampai di rumah tangisnya belum juga mereda. Saya berusaha mengabaikan dan membiarkan dia melepaskan emosinya, namun Cia malah terus menempel saya. Sampai akhirnya saya berikan ultimatum terakhir.

"Belum capek nangisnya? Cia masih mau dibilangi Bunda? Kalau mau, Cia harus nurut dikasih tahu Bunda. Bunda diam dari tadi dibiarin nangis nggak berhenti juga. Dibilangi pelan-pelan nggak bisa. Kalau gitu Bunda bisa marah."

"Nggak, Bunda. Cia mau dibilangin. Minta maaf, Bunda."

Walaupun masih tersedu, akhirnya Cia berhenti menangis. Setelah benar-benar berhenti barulah dia bisa diberi berbagai penjelasan. Bahkan dia bisa mengulangi setiap alasan yang saya berikan.

Saya keluarkan album foto pernikahan saya dan ayahnya dan Cia mulai membuka-bukanya. Album foto ini menjadi pelipur laranya mengobati kerinduannya pada ayahnya. Meski album tersebut tidaklah ringan Cia membawanya kemana-mana.

Cia mau bermain kembali di belakang rumah, bermain bersama sepupu yang tinggal di belakang. Bermain dan berlarian bersama Bee dan mulai kooeratif. Meski kadang masih teringat ayahnya namun Cia masih bisa diaja berdiskusi. Apalagi keponakan datang ke rumah untuk bermain, membuat Cia lebih ceria.

Fingers cross she'll be fine today.

Cia Patah Hati

Bangun tidur Cia menanyakan kembali perihal ayahnya. Tetapi Cia masih bermain seperti biasa. Kami berencana menginap di rumah mertua maka saya beberes cucian. Sebelum berangkat kami menemui beberapa kerabat yang berkunjunh dan beberapa tamu. Rupanya Cia sudah tidak sabar menunggu dan mulai rewel sampai menangis.

Ketika ditanya kenapa dia hanya bilang mau pulang ke rumah, mau sama ayah sekarang. Masih menangis tersedu-sedu, malah Bee berusaha menenangkan kakaknya dengan menepuk-nepuk kepala dan menciuminya lalu tertawa.
Cia masih belum bisa berhenti menangis. Baru berhenti ketika kami sudah mau berangkat. Tetapi begitu sampai di rumah mertua dan mengetahui rumah sudah sepi tinggal kakung dan utinya dia kembali menangis tersedu-sedu. Ketika saya konfirmasi apakah dia menangis karena sedih karena ditinggal ayahnya tangisnya semakin kencang sambil mengangguk.

"Kasihan Ayah, Bun sendirian. Nanti makannya gimana?" katanya sambil menangis.

"Ayah sudah besar, ayah bisa beli sendiri naik motor. Dan ayah kan pulang ke rumah tinggal tidur. Kalau di kantor, ya, banyak temannya."

Alasan tersebut tidak mampu menangkannya. Dia masih mengulangi pernyataan yang sama.

"Aku ikut ayah aja. Nanti makannya Ayah aku yang belikan ke depan naik sepeda."

"Lha, kalau Ayah kerja Cia sama siapa? Anak kecil itu nggak boleh di rumah sendirian."

"Kenapa? Takut ada pencuri?"

"Iya. Sama kalau ada orang jahat masuk gimana?"

"Kan, pintunya dikunci Ayah."

"Ya, kalau orang jahat masih bisa maksa masuk, Kak."

Berbagai alasan belum mampu menenangkannya. Sampai kakungnya tidak bisa istirahat. Akhirnya dengan terpaksa saya menegaskan bahwa dia harus segera menghentikan tangisnya kalau masih mau di sini supaya tidak mengganggu istirahat kakungnya.

Setelah adiknya tidur, Cia mau tidur juga akhirnya. Tetapi setelah satu jam dia terbangun sambil menangis. Masih karena alasan yang sama. Sampai Bee ikut terbangun dan ikut rewel.

Kakungnya kembali terganggu istirahatnya. Setelah sedikit tenang saya ajak sholat ke mushola. Kebetulan di mushola tergantung foto muda ayahnya. Hal ini memancing kembali emosinya dan meledakkan kembali tangisnya dan meminta dipeluk.

"Aku sedih ditinggal Ayah, Bun. Ayah kasihan sendirian. Aku mau pulang."

"Nggak papa, Kak. Ayah sudah besar jadi sudah bisa menjaga diri. Nanti kalau liburan sudah habis kita, kan, pulang juga."

"Tapi lama."

"Kalau Kakak kangen Ayah, didoain, Kak. Minta sama Alloh biar Ayah sehat, kerjanya lancar."

Belum mampu ditenangkan, saya mulai terpancing. Saya ingatkan lagi bahwa kakungnya perlu istirahat. Perlu sekitar setengah jam untuk menenangkannya. Berhenti menangis tidak membuatnya lupa tentang masalahnya. Beberapa kali Cia menengok ke dalam mushola untuk melihat foto ayahnya.

Cia sedikit lebih tenang ketika menemukan kertas dan bulpen. Dia lalu menggambar beberapa orang.





"Ini aku, adik, Bunda, Ayah. Coba lihat, Bun."

"Wah, bagus. Ini ditulisin, Kak. Ayah, Kakak, Adik, Bunda."

"Oh, iya."

Menggambar dan menulis mampu mengalihkan perhatiannya sejenak. Selama sekitar satu jam Cia sibuk menggambar dan minta diajari menulis. Habis tiga lembar kertas, Cia mulai menangis lagi sampai selesai mandi.

"Gambarnya ini nanti dibawa pulang, ya, Bun."

"Oke. Nanti Bunda foto buat dikirim ke Ayah, ya."

Cia masih tampak ingin menangis kalau ingat ayahnya. Sampai ia tertidur sendiri.

Wednesday, 28 June 2017

See You Latter, Ayah

Pada H+1 lebaran ayah anak-anak harus kembali ke rumah karena masa cutinya sudah habis. Mulai dari malam sebelumnya Cia dan Bee berebutan minta gendong ayahnya. Cia hanya mau makan kalau disuapi ayahnya. Dan mandi pun hanya mau dibantu ayahnya.

Pada saat mengantar keberangkatan ayahnya ke terminal bus Bee meraih-raih ingin ikut. Cia sedikit denial bahwa ayahnya sudah mau berangkat. Saya kira ini perpisahan biasa. Pulang dari mengantarkan ayahnya Cia bermain seperti biasa. Kebetulan ada keponakan datang jadi suasana ramai. Tapi ternyata ini luar biasa.

Esok paginya kami ada acara reuni keluarga di Jombang. Cia sudah diberi tahu semalam sebelumnya. Dini hari sebelum subuh Cia dan Bee sudah saya bangunkan untuk diajak berangkat. Perjalanan berjalan lancar hingga sampai tempat tujuan pertama kami, rumah nenek saya. Tetapi sampai di rumah nenek saya Cia mulai merasa asing. Jarang bertemu kerabat yang sedang berkumpul dan disambut dengan terlalu antusias membuat Cia merasa tidak aman. Cia mulai merengek dan menolak bersalaman. Menolak mandi dan makan. Setelah di bujuk barulah Cia mau mandi dan sarapan.

Setelah rapi kedua bocil mulailah berbagai obrolan santai. Dari banyaknya kerabat dan pertanyaan, satu pertanyaan yang selalu berulang, yaitu dimana ayah anak-anak? Saya menjawab berulang dan Cia mendengar. Rupanya dia memerhatikan walaupun tampaknya dia sedang bermain.

Rupanya fakta ayahnya telah kembali ke rumah kami menimbulkan gejolak dalam batinnya hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya. Ditambah guyonan ayahnya sebelum berangkat adalah Cia diajak ikut buat beberes dan masak untuk ayahnya rupanya meningkatkan ketidaknyamanannya.
Cia mulai rewel dan meminta untuk segera pulang padahal kami belum ke tempat acara dan masih banyak saudara yang harus dikunjungi.

Sementara Cia bisa diajak kompromi, yang membuat level emosi saya menanjak selevel lebih tinggi.
Semakin siang semakin susah untuk mengajaknya kompromi. Membuat level emosi saya semakin naik. Perjalanan kami panjang dan melelahkan tetapi kami bersyukur bisa berjumpa dengan kerabat.

Kami mandi dan menyegarkan diri di rumah salah satu kerabat. Cia menemukan seorang teman main, jadi Cia sangat kooperatif. Tetapi dalam perjalanan pulang kami mampir rumah makan dan Cia mulai rewel lagi. Menolak makan dan harus dipaksa untuk makan.

Sampai di rumah Cia malah menangis. Dia mulai meminta pulang ke rumah kami dan menanyakan ayahnya. Dengan berbagai bujukan Cia setuju untuk tidur. Walaupun susah untuk memulai akhirnya Cia bisa tidur juga.

Berakhir juga satu hari yang melelahkan.