Pages

Saturday, 15 July 2017

Aku Menemukan Pewarna Hitam

Permainan sore hari ini sedikit luar biasa. Setelah berlarian dan bersepeda anak-anak berhamburan. Lalu salah seorang sepupu Cia mengambil kerikil dari batu bata dan mencoretkannya di paving, muncullah warna merah. Cia tampak mengamati saja.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba Cia nyeletuk dengan bangga, "Aku nemu pewarna hitam! Lihat!" Sambil mencoretkan sesuatu ke paving dan berwarna hitam. Ternyata Cia menemukan arang. Tak butuh waktu lama anak-anak lain langsung mengerumuni dan mencoba arang tersebut bergantian.

Lucunya ketika mereka mencoba menghapus coretannya, justru membuat tangan mereka hitam. Bukannya takut, mereka malah mencari arang yang lain untuk semakin menghitamkan tangan mereka. Mereka sibuk menggosok-gosokkan arang ke paving lalu mengusapkan bekas gosokan tersebut ke tangan mereka. Alhasil seluruh telapak tangan mereka hitam legam.



Tak berhenti sampai di situ, kreatifitas mereka menggelitik apa yang akan terjadi jika mereka mengusapkan tangan hitam tersebut ke wajah mereka. Dan oh no.... Jadilah wajah coreng moreng hitam arang.


Setelah puas bereksperimen maka mereka harus segera membersihkan diri. Cia langsung mencoba membersihkan diri sendiri namun gagal. Akhirnya harus dibantu untuk menghilangkan seluruh noda arangnya. Tapi bahagianya Cia "berhasil menemukan pewarna hitam". Hihi.

Liburan kali ini precious :)

Friday, 14 July 2017

Kuda Poni Bersemi Kembali

Entah apa yang mengembalikan pesona kuda poni menggantikan dino. Semenjak dua bulan lalu topik kuda poni menyeruak kembali ke permukaan. Segalanya serba karakter ini. Dino terlupakan, lagi.

Cia kembali menggandrungi kuda poni. Meminta ini itu serba kuda poni, padahal mainan kuda poni sudah memenuhi rumah.

Kali ini tas ransel dan kasur berkarkter ini yang menjadi topik hangat di setiap obrolan santai kami. Kasur masih bisa dinego dengan set seprei, yang ditagihnya terus-menerus.hihihi. Perlu keahlian khusus untuk menghentikan rengenkanya soal perkasuran ini.

Yang tidak kalah heboh adalah tas ransel berkarkter kuda warna-warni ini. Walaupun Cia sudah memiliki beberapa tas bergambar poni yang didapat dari kadonya masih saja dia menginginkan ransel.

"Kakak, kan udah punya dua."

"Tapi yang ransel belum punya, Bun. Buat sekolah."

"Yang punya kakak itu juga bisa dipakai, lho."

"Tapi bukan ransel."

"Ya, sama aja. Lagian katanya mau sekolah di rumah, kan nggak perlu bawa tas segala."

"Ga papa, Bun buat tempat buku."

Kalau sudah ada acara ngeyel begini solusi satu-satunya untuk mendiamkannya sementara adalah dengan memantrainya.

"Oke, nabung dulu, ya."

Sementara mantra ini yang bisa mengajanya berpikir logis sementara waktu.

Hari ini kebetulan adalah peringatan hari lahir adiknya. Beberapa kerabat menghadiahi kado Bee. Tapi justru Cia yang lebih antusias membuka setiap kadonya. Dan taraaaaa.... salah satu kado ternyata berisi tas ransel kuda poni. Langsung saja Cia berbinar-binar dan mengklaim bahwa ransel itu adalah miliknya dengan dalih ulang tahun bersama-sama, adik masih terlalu kecil sedangkan tasnya terlalu besar, dan adik tidak suka karakter itu.

Berbagai negosiasi tidak berhasil dilakukan maka jadilah klaimnya terhadap tas tersebut diakui. Dan klaim tersebut dibuktikan dengan penuhnya tas akan mainannya, digendongnya ransel tersebut kemana-mana, dan dikeloninya ransel poni itu saat tidur.

Kabar baiknya adalah adik boleh "meminjam" ransel poni itu.

Fuih...masih belum paham konsep ulang tahun, yang dipahaminya adalah pemberian hadiah kenang-kenangan. Fine, Bee masih dapat tiga boneka dan satu baju, Emak berencana meberi mainan karater kesukaan Bee jadi tak apalah berbagi hadiah.