Pages

Thursday, 29 June 2017

Cia Patah Hati

Bangun tidur Cia menanyakan kembali perihal ayahnya. Tetapi Cia masih bermain seperti biasa. Kami berencana menginap di rumah mertua maka saya beberes cucian. Sebelum berangkat kami menemui beberapa kerabat yang berkunjunh dan beberapa tamu. Rupanya Cia sudah tidak sabar menunggu dan mulai rewel sampai menangis.

Ketika ditanya kenapa dia hanya bilang mau pulang ke rumah, mau sama ayah sekarang. Masih menangis tersedu-sedu, malah Bee berusaha menenangkan kakaknya dengan menepuk-nepuk kepala dan menciuminya lalu tertawa.
Cia masih belum bisa berhenti menangis. Baru berhenti ketika kami sudah mau berangkat. Tetapi begitu sampai di rumah mertua dan mengetahui rumah sudah sepi tinggal kakung dan utinya dia kembali menangis tersedu-sedu. Ketika saya konfirmasi apakah dia menangis karena sedih karena ditinggal ayahnya tangisnya semakin kencang sambil mengangguk.

"Kasihan Ayah, Bun sendirian. Nanti makannya gimana?" katanya sambil menangis.

"Ayah sudah besar, ayah bisa beli sendiri naik motor. Dan ayah kan pulang ke rumah tinggal tidur. Kalau di kantor, ya, banyak temannya."

Alasan tersebut tidak mampu menangkannya. Dia masih mengulangi pernyataan yang sama.

"Aku ikut ayah aja. Nanti makannya Ayah aku yang belikan ke depan naik sepeda."

"Lha, kalau Ayah kerja Cia sama siapa? Anak kecil itu nggak boleh di rumah sendirian."

"Kenapa? Takut ada pencuri?"

"Iya. Sama kalau ada orang jahat masuk gimana?"

"Kan, pintunya dikunci Ayah."

"Ya, kalau orang jahat masih bisa maksa masuk, Kak."

Berbagai alasan belum mampu menenangkannya. Sampai kakungnya tidak bisa istirahat. Akhirnya dengan terpaksa saya menegaskan bahwa dia harus segera menghentikan tangisnya kalau masih mau di sini supaya tidak mengganggu istirahat kakungnya.

Setelah adiknya tidur, Cia mau tidur juga akhirnya. Tetapi setelah satu jam dia terbangun sambil menangis. Masih karena alasan yang sama. Sampai Bee ikut terbangun dan ikut rewel.

Kakungnya kembali terganggu istirahatnya. Setelah sedikit tenang saya ajak sholat ke mushola. Kebetulan di mushola tergantung foto muda ayahnya. Hal ini memancing kembali emosinya dan meledakkan kembali tangisnya dan meminta dipeluk.

"Aku sedih ditinggal Ayah, Bun. Ayah kasihan sendirian. Aku mau pulang."

"Nggak papa, Kak. Ayah sudah besar jadi sudah bisa menjaga diri. Nanti kalau liburan sudah habis kita, kan, pulang juga."

"Tapi lama."

"Kalau Kakak kangen Ayah, didoain, Kak. Minta sama Alloh biar Ayah sehat, kerjanya lancar."

Belum mampu ditenangkan, saya mulai terpancing. Saya ingatkan lagi bahwa kakungnya perlu istirahat. Perlu sekitar setengah jam untuk menenangkannya. Berhenti menangis tidak membuatnya lupa tentang masalahnya. Beberapa kali Cia menengok ke dalam mushola untuk melihat foto ayahnya.

Cia sedikit lebih tenang ketika menemukan kertas dan bulpen. Dia lalu menggambar beberapa orang.





"Ini aku, adik, Bunda, Ayah. Coba lihat, Bun."

"Wah, bagus. Ini ditulisin, Kak. Ayah, Kakak, Adik, Bunda."

"Oh, iya."

Menggambar dan menulis mampu mengalihkan perhatiannya sejenak. Selama sekitar satu jam Cia sibuk menggambar dan minta diajari menulis. Habis tiga lembar kertas, Cia mulai menangis lagi sampai selesai mandi.

"Gambarnya ini nanti dibawa pulang, ya, Bun."

"Oke. Nanti Bunda foto buat dikirim ke Ayah, ya."

Cia masih tampak ingin menangis kalau ingat ayahnya. Sampai ia tertidur sendiri.

No comments:

Post a Comment